Apa itu kegagalan?
Kegagalan sering kita artikan kalau kita ga bisa dapetin sesuatu yang sesuai dg goal atau target kita. Pertanyaannya apakah definisi kegagalan itu absolut? Kegagalan itu sebenarnya tergantung bagaimana kita mendefinisikan arti kata “kegagalan” itu sendiri. Masalah-masalah seperti gagal nikah, gagal dalam percintaan, gagal masuk PTN, gagal bisa masuk jurusan ini, atau gagal ga bisa dapetin job ini itu, atau sesuatu yang lain yang kita sebut kegagalan.
Menurut aku, kegagalan itu ketika aku hidup sebagai coward. Aku tau nih kapasitas dan kemampuan aku itu seperti apa dan kayak gimana. Aku tau opportunity apa yang bisa aku dapetin. Aku tau apa aja yang bisa aku pelajari dan aku coba. Kemudian ada opportunity datang, tapi aku gak ambil kesempatan itu. Aku mikir “aduh kayaknya aku ga bisa deh.. aku bakalan gagal deh..” Karena kebanyakan aduh, aku gak push myself to grab it. Aku lebih milih menghindar dan bertahan pada comfort zone ku. Nah, akhirnya kesempatan-kesempatan yang harusnya aku bisa ambil, ilang gitu aja. Dan pada akhirnya aku nyesel karena gak mau nyoba. So, mulai deh ngerasa “I feel so dumb, helpless, dan ga berguna.”
Kata society kita, kalo kamu kerja ga sesuai jurusan, itu berarti kamu gagal. Kamu punya suami dan belum ada kerjaan tetap, tandanya itu gagal. Karena katanya kalo dalam keluarga yang harus bisa diandalkan dalam finansial itu adalah suami.
Well, sebenarnya definisi ‘gagal’ itu relatif. Setaip orang harus punya definisi sendiri bagaimana dia memaknai arti kata ‘kegagalan’. Sekarang, permasalahannya orang itu gampang merasa gagal berdasarkan definisi menurut society, yang mana itu shallow banget. Contohlah, pas SMA ga bisa masuk jurusan IPA dan kamu ngerasa gagal. Permasalahannyaada pada society kita yang terlalu mengglorifikasi anak IPA. Kalau anak IPA itu rajin-rajin, pinter dan cerdas. Sedangkan anak IPS itu anak buangan, anak bandel, anak-anak bodoh. Padahal kan gak semuanya gitu.
Atau pas kita gagal masuk PTN nih, nah again itu permasalahan di society kita yang terlalu mengglorifikasi PTN. Atau contoh lain nih, kamu udah umur 20 tahun ke atas dan kamu masih belum punya pasangan dan belum nikah. Again, permasalahannya ada pada society kita yang terlalu mengglorifikasi dan meromatisasi pernikahan.
Ada beberapa kegagalan yang seringkali terjadi di society kita.
1. Gagal menyenangkan orang terdekat karena gagal masuk universitas favorit
Kita hidup di negara dimana sangat mengglorifikasi PTN. Karena emang kualitas perguruan tinggi itu ga sama. PTN itu cenderung lebih bagus. Entah karena fasilitasnya, tenaga pengajarnya yang mumpuni, linknya banyak. Jadi, nanti di dunia kerja lebih mudah dapet kerjaan. Disini, ada mentality dimana orang-orang yang masuk PTN sangat diglorifikasi. “Wah…lulus PTN” sampe-sampe ada kasus nyuap biar bisa masuk PTN.
Sebenarnya kita ga bisa nyalahin juga. Karena itu sudah jadi sistem. Cuma yang disayangkan, udah tau sistemnya kayak gitu, society kita malah semakin ngesupport untuk yang demikian. Kita pasti ngerasa kesel gak sih kalau lagi kumpul keluarga atau temen apalagi pas momen lebaran, kita bakalan dibanding-bandingin sama saudara kita. Misalnya, sepupu kita yang masuk PTN. Permaslahannya lagi-lagi di society kita, ada stigma negatif yang diberikan ke orang-orang yang masuk PTS (Perguruan Tinggi Swasta). Katanya kalau kuliah di PTS itu tandanya gak capable buat diterima di PTN.
Once more, kita hidup di society yang sangat mengglorifikasi kalau kesuksesan itu selalu dikaitkan dengan urusan finansial. Padahal kesuksesan itu bukan cuma dari segi finansial. Apa gunanya kalau kamu finansialnya sukses tapi sakit-sakitan? So, is it called success? Society kita emang materialistis sih. Jadi akhirnya kita punya generasi muda yang harusnya bisa kita nurture untuk menghargai orang, berempati, open minded, toleransi, instead kita di buat untuk sama pemikirannya sama dengan generasi tua.
2. Gagal masuk jurusan atau salah jurusan
Semakin banyak relasi kita, semakin banyak kita ketemu orang, we would believe kalau bidang yang kamu tekuni di kuliah ga harus sama dg pekerjaan yang bakal kamu tekuni nanti. Apakah ilmu nya sia-sia? Nggak juga. In general, menuntut ilmu itu kan baik. Kalaupun kamu ngerasa salah masuk jurusan, kamu setidaknya bisa nge shape dirimu jadi pribadi yang bertanggung jawab, kritis, disiplin. Dan setidaknya semuanya basicnya dari kuliah. Terbiasa dengan deadline, mentalnya terbiasa di uji, menyampaikan gagasan di depan umum, pinter nge manage waktu dll. Semuanya tanpa kita realize ngebentuk mindset kita.
3. Gagal nikah
Society kita terlalu meromantisasi pernikahan. Emang bener kalo pernikahan itu menyempurnakan agama. Itu mulia banget karena kalau ijab qobul bakalan banyak malaikat yang mengamini. Tapi masalahnya pernikahan itu hal yang private, yang harusnya bukan milik publik. Tapi milik antara dua insan dan keluarganya atau bahkan cuma dua insan itu aja. Glorifikasi pernikahan seringkali kita jumpai kalo pas ngumpul keluarga, pas ngumpul sama temen-temen. Pasti bakalan ada pertanyaan-pertanyaan sensitif kayak “uda ada calon belum?” “kapan nih nikahnya?” Uda umur 25 kok belum nikah?” Akhirnya kalo ada orang uda umur 20 atau 30 tahun keatas dan belum menemukan jodohnya dinamakan suatu kegagalan. Apalagi cewek nih, uda umur 30 tahun kok belum nikah, pasti bakal dikatain perawan tua. Karena ada mentality-mentality yang kayak gitu, orang akhirnya merasa gagal karena belum menemukan jodohnya. Well, urusan jodoh itu kita ga ada yg tau. Mau kita galau bertahun-tahun, mau kita like ratusan postingan nikah muda, pasang status untuk campaign nikah muda. Kalau jodohnya belum datang, ya udah. Ngapain kita merasa sangat menggalau-galau, ngabisin emosi kita untuk memikirkan sesuatu yang kita ga tau, sesuatu yang bukan kuasa kita.
So, apakah gagal itu salah? Gimana caranya berdamai dengan kegagalan?
Yang pertama ilangin dulu ekpektasi. Hilangkan pemikiran kamu ingin sesuatu dan kamu harus dapetin itu. Ambisius terus menerus itu ga bagus. Ga baik juga buat mental health kamu. Karena itu salah satunya bisa nyebabin kamu gampang sakit hati, kecewa, marah-marah ga jelas. Efeknya, instead kamu fokus ke diri kamu, kamu bakal fokus pada hidup orang lain. “Wah orang lain uda dapet ini itu, tapi aku kok masih gini-gini aja.”
Well, hidup itu bukan perlombaan, bukan racing yang kayak kuda atau ferrari yang berarti yang paling cepet itulah yang menang. Ga ada yang namanya kalah menang. Kegagalan dan kesuksesan itu definisinya made up by society. Kenapa kita jatuh, kenapa kita gagal itu disebabkan social construct. Sebenarnya ga ada yang maksa manusia untuk selalu berhasil mendapat apa yang dia mau atau berhasil mendapat sesuai apa yg society mau. Hidup itu tempat atau area manusia melakukan eksperimen. Namanya juga eksperimen, pasti ada salah, benar, baik, buruk, gagal, berhasil. Dan paling penting bisa ga sih kita keluar dari social construct itu? Bisa ga sih kita keluar dari mindset disaat orang-orangg mengglorifikasi dan meromantisasi nikah itu the one and only thing you have to do in this world. Akhirnya kita yang belum nikah, masih belum punya pasangan merasa kalau kita itu ngerasa down, kita merasa so pity karna ga sesuai social construct. Live with your own way. Kita hidup buat diri kita dan Tuhan kita, bukan buat society.
Lalu gimana caranya tidak takut gagal?
Pertama Ikhlas, do something karena Allah bukan karena orang lain, husnudzon pd diri sendiri dan Allah. Jangan banyak ekspektasi tentang outcome dari usaha yang kita lakuin. Then do not being too hard to yourself. Punya badan bukan untuk disakiti, bukan untuk dikatain. “Kamu bodoh, kamu ga bisa, kamu gak capable dsb….”. You should love yourself. Appreciate what you have done because you have done the best. Kamu uda usaha, kamu udah kerja keras, terima apapun hasilnya.
Love your life, believe that this is the best version from your God. Agak susah sih emang di jaman yang digital kayak saat ini. Kita tau kalau Instagram itu tempatnya show off atau pamer orang-orang. Akhirnya kadang kita gampang ke trigger deh. “Eh dia kok belanja terus ya, dia kok liburan terus ya,..Sementara aku uma duduk aja di rumah, gabut ga ngapa-ngapain.” Atau kamu liat cewek yang cantik, kurus, kulitnya putih. Terus kamu agak berisi, “kok gue jelek ya,” Kamu ngerasa down karena kamu gak fit to the beauty standard. Remember one thing, orang cuma nge post the best version of their life. Ga mungkin juga dong dia nangis-nangis lagi ga punya duit bakal di buat story di IG hehe.
So, bersyukur itu kunci untuk ikhlas menjalani hidup, mencintai diri sendiri, dan mencintai hidupmu sendiri. Semuanya berawal dari hati dan mindset kita. Kalo hati kita uda bersih, kalo mindset kita uda lurus, kita ga akan merasa kalo diri kita itu gagal. Jadi kita ngejalanin hidup itu lebih enjoy. Eeiitss… bukan berarti gak usaha. Tapi kita jadi punya niat dalam usaha itu beda, cara kita memandang hidup dan goal itu beda. Goal itu buat kita keep go on this life and appreciate this life. Achieving something is not our purpose, tapi buah dari kerja keras.
Semoga manfaat…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar